Wednesday, 19 October 2011

Pemalu

Maaf, cerita ini adalah cerita horo bagi seorang preservasionis, menjengkelkan bagi konservasionis, dan memuakkan bagi pecinta burung, tapi gag penting bagi pemerintah (makannya, isu reshuffle gausah digembor2in, ga ngaruh apa2).

Di suatu siang di SD di suatu Kota nan panas yang terkenal itu, tau lah kota apa itu, anak kecil yang tak pernah belajar dari kesalahan itu - aq - berada di luar gerbang sekolah. Siang yang indah yang belum terlalu panas dengan global warming. I hate global warming. Niad si kecil nan ganteng itu hanyalah windows shopping sebelum pulang sekolah. Tapi dari sini dia berbakat menjadi pengamat burung. Paman penjual burung puyuh menjajakan produknya, burung puyuh tentunya.

Burung berwarna warni itu sangat imoet n lutju (imut dan lucu.red). Seakan2 memanggilku untuk mengasihinya. Kupilih salah satu yang berbentuk bulat -lebih bulat dari lainnya- dan berwarna natural, coklat. Tak lupa kupilah-pilih diantara puluhan burung yang berdesakan itu yang paling lantang suaranya.

Transaksipun berlangsung antara aq dan pedagang itu. Kukeluarkan beberapa lembar Rupiah dan paman penjual burung memasukkan burung tersebut kedalam kantong kertas yang sudah dilubangi. Transaksi berhasil, barangnya berada di tanganku. Aq sudah mempersiapkan dimana akan memingitnya dan pakan apa yang akan kuberikan agar kelak burung itu mengikutiku kemanapun aq pergi.lugunya.

Aq beranjak ke angkot, kali ini dengan temanku yang sangat puas telah menertawaiku waktu lampau. Tiba2 burung di tanganku membuat resah hatiku, suaranya tak kunjung reda walau dimasukkan kedalam kertas dengan dua lubang persegi. Itu membuat malu aq sebagai anak kecil yang ganteng.

Aq meminta bantuan temanku untuk memasukkan burung itu kedalam tasku, ya terlalu lugu. Lalu masuklah aq ke angkot. Aqngkot penuh sesak dengan orang, aq sengaja tidak melepaskan tasku, masih di punggung dan terhimpit dinding angkot. Angkot mulai melaju. Suara burung masih terdengar, kucoba menekan tasku dengan memundurkan dudukku sedikit. Super lugu.

Biasa, aktor senior beraksi, kali ini bapak2.
          "dek, burungnya kasian ga bisa napas"
          huft, aq bisa memperhitungkannya pak, tenang saja.
          "Ditaruh diluar saja, dek"
          mau taruh dimana mukaku, Pak?
          "Gapapa, pak" jawabku

Sang bapak memilu, tak tahan melihatku begitu lugu. 30 menit berlalu, dan akhirnya saatnya aq mengeluarkan hewan peliharaan pertamaku (yang kubeli dengan uangku) ternyata.....

BURUNG PUYUHKU GEPENG, SEMUA TULANGNYA REMUK
Giliran wajahku memilu sekarang. Tetap dalam keadaan seperti ini aq malu mengeluarkan air mata, hanya tampak rembesan air mata dan penglihatanku membuyar. Aq tahan air mata itu sekuat hati (emosi dikendalikan dengan hati, bukan tenaga). Ayahku melihatnya dan memarahiku, juga bersedih atas binatang malang itu. Ayahku menyuruhku menguburkannya, aq kubur jasadnya dan aq kenang jasanya.Ingin kusalahkan temanku yang agak lugu yang menutup resleting tasku dengan rapat.Tapi faktor utamanya tetap aq.

Sampai saat ini burung itu masih berada di otakku, kubayangkan seberapa besar ia sekarang. Kuharap bisa kunaikinya. Maafkan aq burung puyuhku, kuberjanji takkan memelihara burung sekiranya dari sekarang.

Temen2 bisa membaca tulisanku ini dengan mengganti kata2 lugu dengan bodoh.

Sunday, 31 July 2011

Pelupa

Tau kan kalo aq pelupa. Sebenernya itu bakat dari kecil. tak ceritain deh, BEGINI CERITANYA.....
Suatu hari di suatu SD di suatu kota yang panas di Jawa Barat yaitu suatu kota bernama Cirebon, sekolahlah seorang bocah kelas 4 SD bernama Faqih, dulu masih ganteng, sekarang agak berkurang. Bel sekolah berbunyi lantang di suatu panas itu. Sontak anak2 berhambur keluar ruangan dengan destinasi (ala parwi) jajanan di luar gerbang sekolah.

Biasa kalo aq pulang naiknya angkot GP berdua ama temen saya yang lupa namanya. Karena dari kecil aq orangnya iseng, maka aq tinggalin tuh temenku sendiri, aq sengaja naik angkot yang beda arah supaya lebih cepet n gausah nyebrang,padahal aq juga sendiri (goblok yak, ya ampun) naiknya tar 3 kali angkot pula, boros.

Pas nginjekin kaki ke angkot, trus duduk, aq buka kaca mobil trus dadah2 ke temen aq. Lha temen aq itu masang muka bingung, mungkin karna aq ga naik angkot GP kali. Tapi mungkin ada SESUATU (ala syahrini) dibalik mlongonya itu. Gag keliatan kaya orang yang ditinggalin pulang ama temennya. Tapi sudahlah, biarkan saja semua rasa cinta yang ada (nah ini lagu dangdut).

Sampailah aq di angkot ke 3 alias Angdes kuning. Ibu2 iseng nanyain aq.
          "dek, koq cepet pulangnya"
          nah lho, koq cepet ya?
          "Lha itu kamu ga pake tas?kemana tasnya?"
          tambah cenat ccenut ni ati.
          "gapaapa bu." jawabku

Setelah beberapa meter dari tempat angdes ngetem beberapa menit di peraduannya dan obrolan yang membuat GALAU dengan ibu itu, barulah aq sadar. Temen-temen,

AQ PULANG PAS ISTIRAHAT SEKOLAH.

Mati, mau ngomong apa ma ortu. Dengan berkata jujur pada orang tua, orangtuaku gag marah, malah ngetawain, yang selalu dikenang (diketawain ulang, relaugh) sampai sekarang jika aq melupakan sesuatu (bahkan yang ada di tanganku.

keesokan harinya aq harus membawa buku di tangan, tanpa memikul tas. What a Shame! Padahal aq Ketua Kelas lho. Don't try this at home deh.

Please someone help me, give me some pill that makes my brain works!!!!

Tuesday, 26 July 2011

Bakso

ini adalah kisah temen cewekku yang aku gamau sebutin. Inisialnya saja, "F". Cerita ini diceritakan saat SMA waktu kita kelas 3, dia teman sebangkuku. Ceritanya begini.

Suatu hari saat dia masih SMP di Cirebon, dia sedang makan sama pacarnya di kantin. Biasa, pilihannya Bakso yang murah dan enak tentunya. Mereka makan berhadap-hadapan. indahnya masa-masa SMP.

Singkat cerita, pacar F itu maem baksonya pake sambel banyak banget. Beuh, bikin keringetan lah. Yang namanya pedes bikin semua yang ada di badan lumer, termasuk hidung. Nah tuh anak makan bukannya pake garem kalo kurang asin, ini malah pake keringet. Jorok sumpah. si F juga kejijikan ngeliadnya, dan melanjutkan makan baksonya dengan menahan lonjakan asam lambungnya.

Puncaknya, hidung pacar si F itu lumer benar karena kekuatan minyak dari biji cabai yang tersuspensi di mangkuk baksonya, HALAH. Jadiah cairan kental berwana kuning kehijau-hijauan menari-nari di bawah hidungnya.  F memperingati cowoknya itu. Si cowok menarik mundur pasukan hijau. Pasukan tidak menyerah untuk mangeluarkan diri dari hidungnya. Dia langsung menarik mudur pasukan tetapi pasukan yang terlanjur di depan bercerai berai dengan yang ditarik mundur.

Ya, cairan itu terjatuh ke mangkok bakso yang sedang lahap dimakan. Momen itu terperangkap di otak F melalui matanya dan dari otak memberi rangsangan yang aneh melalui sumsum tulang belakang ke lambungnya. F menaham muntah sementara cowoknya tidak menghiraukan apa yang terjatuh di mangkoknya, masih melanjutkan makannya.

          "kamu jorok, QT PUTUS" F muntab.
          kalo sekarang kejadiannya mungkin yang F ucapkan "loe, gue, end"
          "hah?" cowok F terpana dengan perkataan F.
          F berdiri dari kursinya, berbalik arah dan mengambil langkah seribu, mungkin tujuannya toilet.


Begitulah kealbilan CINTA SMP dan kealbilan benda-benda yang berada di hidung dipacu dengan bakso berkuah pedas. Aq tarik kembali kata-kataku yang berbunyi "indahnya masa-masa SMP". Selagi masa-masa SD-ku kurang sukses, aq cuma bisa berkata "Indahnya masa-masa SMA" untuk sementara waktu.

Maap ye kalo ceritanya ga lengkap atau berlebihan bagi yang punya cerita, aq AGAK pelupa.