Maaf, cerita ini adalah
cerita horo bagi seorang preservasionis, menjengkelkan bagi
konservasionis, dan memuakkan bagi pecinta burung, tapi gag penting bagi
pemerintah (makannya, isu reshuffle gausah digembor2in, ga ngaruh
apa2).
Di suatu siang di SD di suatu Kota nan panas yang terkenal itu, tau lah kota apa itu, anak kecil yang tak pernah belajar dari kesalahan itu - aq - berada di luar gerbang sekolah. Siang yang indah yang belum terlalu panas dengan global warming. I hate global warming. Niad si kecil nan ganteng itu hanyalah windows shopping sebelum pulang sekolah. Tapi dari sini dia berbakat menjadi pengamat burung. Paman penjual burung puyuh menjajakan produknya, burung puyuh tentunya.
Burung berwarna warni itu sangat imoet n lutju (imut dan lucu.red). Seakan2 memanggilku untuk mengasihinya. Kupilih salah satu yang berbentuk bulat -lebih bulat dari lainnya- dan berwarna natural, coklat. Tak lupa kupilah-pilih diantara puluhan burung yang berdesakan itu yang paling lantang suaranya.
Transaksipun berlangsung antara aq dan pedagang itu. Kukeluarkan beberapa lembar Rupiah dan paman penjual burung memasukkan burung tersebut kedalam kantong kertas yang sudah dilubangi. Transaksi berhasil, barangnya berada di tanganku. Aq sudah mempersiapkan dimana akan memingitnya dan pakan apa yang akan kuberikan agar kelak burung itu mengikutiku kemanapun aq pergi.lugunya.
Aq beranjak ke angkot, kali ini dengan temanku yang sangat puas telah menertawaiku waktu lampau. Tiba2 burung di tanganku membuat resah hatiku, suaranya tak kunjung reda walau dimasukkan kedalam kertas dengan dua lubang persegi. Itu membuat malu aq sebagai anak kecil yang ganteng.
Aq meminta bantuan temanku untuk memasukkan burung itu kedalam tasku, ya terlalu lugu. Lalu masuklah aq ke angkot. Aqngkot penuh sesak dengan orang, aq sengaja tidak melepaskan tasku, masih di punggung dan terhimpit dinding angkot. Angkot mulai melaju. Suara burung masih terdengar, kucoba menekan tasku dengan memundurkan dudukku sedikit. Super lugu.
Biasa, aktor senior beraksi, kali ini bapak2.
"dek, burungnya kasian ga bisa napas"
huft, aq bisa memperhitungkannya pak, tenang saja.
"Ditaruh diluar saja, dek"
mau taruh dimana mukaku, Pak?
"Gapapa, pak" jawabku
Sang bapak memilu, tak tahan melihatku begitu lugu. 30 menit berlalu, dan akhirnya saatnya aq mengeluarkan hewan peliharaan pertamaku (yang kubeli dengan uangku) ternyata.....
Sampai saat ini burung itu masih berada di otakku, kubayangkan seberapa besar ia sekarang. Kuharap bisa kunaikinya. Maafkan aq burung puyuhku, kuberjanji takkan memelihara burung sekiranya dari sekarang.
Temen2 bisa membaca tulisanku ini dengan mengganti kata2 lugu dengan bodoh.
Di suatu siang di SD di suatu Kota nan panas yang terkenal itu, tau lah kota apa itu, anak kecil yang tak pernah belajar dari kesalahan itu - aq - berada di luar gerbang sekolah. Siang yang indah yang belum terlalu panas dengan global warming. I hate global warming. Niad si kecil nan ganteng itu hanyalah windows shopping sebelum pulang sekolah. Tapi dari sini dia berbakat menjadi pengamat burung. Paman penjual burung puyuh menjajakan produknya, burung puyuh tentunya.
Burung berwarna warni itu sangat imoet n lutju (imut dan lucu.red). Seakan2 memanggilku untuk mengasihinya. Kupilih salah satu yang berbentuk bulat -lebih bulat dari lainnya- dan berwarna natural, coklat. Tak lupa kupilah-pilih diantara puluhan burung yang berdesakan itu yang paling lantang suaranya.
Transaksipun berlangsung antara aq dan pedagang itu. Kukeluarkan beberapa lembar Rupiah dan paman penjual burung memasukkan burung tersebut kedalam kantong kertas yang sudah dilubangi. Transaksi berhasil, barangnya berada di tanganku. Aq sudah mempersiapkan dimana akan memingitnya dan pakan apa yang akan kuberikan agar kelak burung itu mengikutiku kemanapun aq pergi.lugunya.
Aq beranjak ke angkot, kali ini dengan temanku yang sangat puas telah menertawaiku waktu lampau. Tiba2 burung di tanganku membuat resah hatiku, suaranya tak kunjung reda walau dimasukkan kedalam kertas dengan dua lubang persegi. Itu membuat malu aq sebagai anak kecil yang ganteng.
Aq meminta bantuan temanku untuk memasukkan burung itu kedalam tasku, ya terlalu lugu. Lalu masuklah aq ke angkot. Aqngkot penuh sesak dengan orang, aq sengaja tidak melepaskan tasku, masih di punggung dan terhimpit dinding angkot. Angkot mulai melaju. Suara burung masih terdengar, kucoba menekan tasku dengan memundurkan dudukku sedikit. Super lugu.
Biasa, aktor senior beraksi, kali ini bapak2.
"dek, burungnya kasian ga bisa napas"
huft, aq bisa memperhitungkannya pak, tenang saja.
"Ditaruh diluar saja, dek"
mau taruh dimana mukaku, Pak?
"Gapapa, pak" jawabku
Sang bapak memilu, tak tahan melihatku begitu lugu. 30 menit berlalu, dan akhirnya saatnya aq mengeluarkan hewan peliharaan pertamaku (yang kubeli dengan uangku) ternyata.....
BURUNG PUYUHKU GEPENG, SEMUA TULANGNYA REMUKGiliran wajahku memilu sekarang. Tetap dalam keadaan seperti ini aq malu mengeluarkan air mata, hanya tampak rembesan air mata dan penglihatanku membuyar. Aq tahan air mata itu sekuat hati (emosi dikendalikan dengan hati, bukan tenaga). Ayahku melihatnya dan memarahiku, juga bersedih atas binatang malang itu. Ayahku menyuruhku menguburkannya, aq kubur jasadnya dan aq kenang jasanya.Ingin kusalahkan temanku yang agak lugu yang menutup resleting tasku dengan rapat.Tapi faktor utamanya tetap aq.
Sampai saat ini burung itu masih berada di otakku, kubayangkan seberapa besar ia sekarang. Kuharap bisa kunaikinya. Maafkan aq burung puyuhku, kuberjanji takkan memelihara burung sekiranya dari sekarang.
Temen2 bisa membaca tulisanku ini dengan mengganti kata2 lugu dengan bodoh.
No comments:
Post a Comment